Tuesday, September 05, 2017

Komentar Tentang Kepemimpinan Umat Islam Di Indonesia



Assalamu’alaikum wr.wb., Kemarin saya menulis sebuah post ttg sekolah di Jakarta yang dapat air minum dari keran di sekolah. Saya jelaskan, di Australia dan Selandia Baru (contohnya) sudah umum sejak puluhan tahun lalu. Dan di sini, fasilitas sekolah tidak dibangun spt di sana hanya karena satu alasan, yaitu uang rakyat tidak aman di tangan pemimpin, pejabat dan PNS Muslim yang mengurusnya di dinas masing2. Karena bekaitan dgn pendidikan, saya juga post di group guru. Tidak ada yang mau terima. Komentar saya dikatakan SARA dan saya dihujat.

Sudah sering saya jelaskan, kalau seandainya 99,9% dari orang Muslim yang mendapat sebuah jabatan menolak korupsi, Indonesia sudah memimpin dunia. Kita sendiri yang Muslim telah gagal. Tidak usah bahas umat lain krn kita yang Muslim harus tanggung jawab sebagai mayoritas!! Kalau korupsi di sini sebatas 0,1% karena semua pemimpin Muslim bisa memegang amanah uang rakyat, pasti semua orang Muslim tunjuk dada sendiri penuh kebanggaan, dan katakan “KARENA pemimpin kita Muslim, di sini tidak ada korupsi!” Bukannya betul? Tetapi kalau sebaliknya, Muslim memimpin, dan korupsi merajalela, SIAPA yang paling perlu bertanggung jawab? Kita yg Muslim, betul? Bagaimana kita bisa mengubah sistem Pendidikan agar anak Muslim yg sedang dididik bisa menjadi pemimpin berkualitas dan TIDAK MENCURI? Karena utk hal sekecil itu saja, kita belum berhasil.

Utk buktikan komentar saya, ada contoh dari kisah2 yang disampaikan ke saya dari orang Indonesia. Ada yang melihat korupsi langsung di tempat kerja, atau mengetahui, tapi diam dan biarkan. Karena banyak, saya taruh di bawah di bagian “komentar”. Silahkan baca dan berikan tanggapan. Apa yang perlu berubah sehingga pemimpin Muslim dari tingkat Kepala Desa smp Menteri dan Gubenur bisa berhenti melakukan korupsi?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Dari diskusi dgn seorang PNS di kementerian pariwisata:
Dia jelaskan bahwa ada banyak korupsi di kantor. Tapi alhamdulillah dia tidak terlibat. (hanya mengetahui saja). Lalu dimusuhi oleh rekan kerja. Dianggap sok suci. Sulit naik pangkat. Yang kualitas kerja (dan rajin kerja) jauh di bawah dia cepat kenaikan pangkat. Karena bagikan amplop. Dia sulit maju, tapi pasrah. Dan juga tidak berani laporkan korupsi yang dia ketahui.

Dari diskusi dengan seorang pejabat tinggi di kementerian sosial:
Saya telfon utk diskusi lanjutan ttg rencana program sosial. Dia minta maaf, sudah mengundurkan diri dari kementerian. Saya kaget, tanya kenapa. Dia jawab, tidak kuat melihat korupsi yang terjadi secara massal dan luas di kementerian sosial. Karena takut akan kena masalah di akhirat, dia keluar saja.
Saya minta contoh ttg apa yang dia lihat. Dia menolak. Tidak mau sebutkan apa yang dia ketahui, tidak mau sebutkan siapa yang terlibat, dan tidak mau laporkan ke siapapun. Hanya bisa keluar saja.

Dari diskusi dengan petugas bea cukai:
Dia dimusuhi dan disebut sok suci oleh rekan kerja di pelabuhan. Mereka punya mobil mewah, pakai jam tangan mewah, dan anak masuk sekolah swasta. Dia hanya punya motor vespa dan sulit bayar uang sekolah dari gaji saja. Di satu wilayah itu, hanya dia sendiri yang miskin. Semua rekan kerja yang PNS sangat kaya, katanya.

Dari diskusi dengan orang yg bahas sebuah proyek di kementerian pendidikan:
Dia duduk satu meja dgn staf eselon satu, dan staf2 lain yang terlibat dalam proyek itu. Ada 12 orang. Semuanya Muslim. Mereka membahas jatah uang yang akan diterima dari proyek tersebut, rata2 1-2 milyar per orang. Lalu ada adzan dzuhur. Mereka semua berdiri, turun ke masjid utk shalat dzuhur, lalu kembali ke atas, dan teruskan diskusi ttg proyek itu, dan kembali nego2 ttg jatah uang yang akan dibagikan ke setiap orang dari anggaran proyek.

Dari diskusi dengan seorang sopir yang bosnya anggota DPR dari partai Islam:
Sering ada koper di belakang mobil. Karena tidak dikunci, dibuka. Kadang ada dolar amerika, dolar singapura, euro, atau rupiah. Sopir itu awalnya takut, lalu karena sering lihat, dia mulai ambil satu lembar dari setiap pack. (Tidak akan ketahuan sampai dihitung pakai mesin). Dia ketawa saja dan bilang kl bos dapat jatah, dia mesti dapat juga karena gaji tidak seberapa.

Dari diskusi dengan seorang ibu yang ikut pengajian di Jakarta:
Sebelum masuk tempat pengajian, saya dikasih peringatan. Pemilik rumah seorang ibu yang suaminya anggota DPR. Jadi tolong jangan bicara ttg korupsi di Indonesia. Teman saya jelaskan. Sang suami yang anggota DPR itu sering bawa pulang tas dan koper berisi uang tunai. Isteri selalu bersyukur, renovasi rumah, beli barang2 baru, kirim anak ke sekolah paling mahal di DKI, sering bikin rencana jalan2 ke luar negeri.
Semua teman (jemaah pengajian) anggap itu pasti “uang haram”, tapi ibu yg jadi pemilik rumah tidak pernah mau membahasnya, jadi teman2nya jadi MALU angkat topik korupsi di depan dia.

Dari diskusi dengan seorang pemilik tambang:
Dia jelaskan bahwa pemilik tambang sebenarnya adalah seorang politikus yg kuat. Tapi agar aman dari tuduhan korupsi dan kolusi, tambang didaftarkan atas nama “teman”. Lalu hasil penjualan mengalir ke politikus Muslim itu. Lalu politikus mengatur UU negara, agar tambang itu aman, karena sebenarnya milik dia. Tapi di atas kertas, milik orang yang tidak ada hubungan dgn pemerintah. Triliyunan rupiah dihasilkan, dan dipakai utk tujuan politik dan bisnis.

Di saat acara pelatihan di Seskoad Bandung, di depan sektiar 150 kapten dan mayor, ada pembahasan ttg “daerah basah”. Semuanya ketawa dengan keras. Setelah acara, saya diskusi dgn jenderal yang jadi komandan di Seskoad, dan bertanya ttg daerah mana yang dianggap basah, dan kenapa semuanya ketawa begitu keras.
Dia jelaskan bagaimana tentara bisa hasilkan uang di wilayah tertentu, dan setelah mereka lulus, naik pangkat dan dimutasi ke daerah baru, semuanya ingin ada kesempatan utk masuk daerah basah itu. Lalu dia kasih contoh2. Dan jelaskan betapa marahnya prajurit yang dikirim ke “daerah kering”.

Dari diskusi dengan seorang pemimpin partai yang Muslim:
Dia jelaskan kenapa anggota DPR dan DPRD dari partainya “tidak punya pilihan” di saat ada pembagian amplop di komisi. Katanya kl ditolak, mereka akan dicap sok suci, dan dimusuhi. Hasilnya, tidak bisa kerja sama utk memajukan agendanya. Jadi dgn berat hati, para anggota dinasehati utk terima saja amplop itu, karena itu lebih baik daripada dimusuhi dan tidak bisa kerja sama dgn anggota yang lain.

Dari diskusi dengan seorang ustadz yang mengurus ratusan anak yatim di sebuah desa:
Saya jelaskan pemerintah sudah cairkan dana desa 1 milyar per desa dalam sebuah program nasional. Dia kaget sekali, dan bilang tidak pernah ada. Kepala desa juga bilang tidak ada dana itu. Jadi tidak ada yang tahu hilang ke mana, dan apakah pernah dicairkan. Padahal desa itu hanya 1 jam dari Jakarta. Di bbrp desa di wilayah2 yg lain di pulau Jawa, saya tanyakan hal yang sama, dan semuanya mengaku tidak pernah dengar ada uang 1 milyar utk desa. Hilang saja uang itu dari pemerintah.

Dari diskusi dengan seorang staf ditjen pajak yang berjilbab:
Dia jelaskan ada banyak kasus ganjil di kantor. Saya minta contoh. Ada sebuah PT yang bertahun2 tidak bayar pajak. Setelah dihitung, termasuk denda, jumlah total sudah puluhan milyar (PT itu besar). Lalu bos PT bikin janji makan siang dgn kepala unit pemeriksaan itu. Kepala unit itu kembali ke kantor, bikin laporan pajak baru, dgn jumlah total hanya ratusan juta saja. Teman saya yg berjilbab disuruh berikan tanda tangan. Saya tanya kenapa dia berikan tanda tangan kl tahu info itu palsu, dan negara dirugikan puluhan milyar. Dia jawab, takut dimusuhi dan dimutasi kl tidak taat dgn atasan. Jadi dia berikan tanda tangan pada laporan palsu, dan bos PT bayar ratusan juta saja, dan negara dirugikan puluhan milyar.

Ada satu lagi, yang bukan “uang negara” tapi dana CSR dari PT yang semestinya dipakai utk kesejahteraan rakyat. Diskusi dgn orang di sebuah PT besar:
PT punya dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang wajib dikeluarkan utk tujuan sosial setiap tahun. Perkiraan saya, mungkin puluhan milyar. Saya mencari dana utk program sosial, jadi coba minta dana ke mereka.
Orang itu bilang maaf, sudah habis karena diambil oleh satu Menteri. Tapi ketika mereka cek ke lapangan, hampir tidak ada kegiatan atas nama yayasan yang terima dana tersebut. Artinya, jumlah uang yang banyak (milyaran atau puluhan milyar) diserahkan ke sebuah yayasan, milik seorang Menteri, lalu hilang.
Saya tanya kenapa mereka tidak laporkan karena merupakan korupsi ke dana sosial, walaupun bukan uang negara. Katanya, mrk takut ada masalah dgn pemerintah, jadi dibiarkan saja. Persoalan uang itu dipakai oleh seorang Menteri yg Muslim utk urusan pribadi dan partainya, dan bukan utk kesejahteraan rakyat, mrk angkat tangan.
(FYI, dana CSR di Indonesia seharusnya sekitar 10 triliun per tahun.... Jangan bertanya berapa banyak yang sampai ke rakyat...)

Sekian saja dulu. Saya bisa teruskan kisah2 ini karena masih banyak yang lain. Hampir semua orang yang terlibat dalam kasus2 ini adalah MUSLIM. Sama seperti saya. Mereka terbuka saja ceritakan kisah2 korupsi yang mereka ketahui dan alami sendiri. Saya tidak tahu ttg kenapa begitu banyak orang bisa bicara terbuka terus dgn saya spt ini. Mungkin karena saya orang asing, jadi mereka merasa aman saja ceritakan? Saya sudah sedih dan jenuh dengar kisah2 ini terus. Dan tidak berhenti sampai sekarang. Umat Islam yang perlu bersatu untuk mencari solusi SEBELUM menjadi kasus di KPK atau polisi. Tapi kebanyakan orang sibuk mengutamakan diri sendiri dan tidak mau fokus pada masa depan bangsa. Yang penting aman sendiri saja. Dan kalau umat Islam belum mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sekitar kita, negara ini tidak akan bisa bangkit dan menjadi pemimpin dunia. Kita semua harus bangun dari dunia mimpi dan mencari solusi bersama. Dan saya yakin solusi itu harus berasal dari sistem pendidikan. 
-Gene Netto

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...