Monday, December 02, 2013

Percaya Pada Kebetulan, Atau Pada Yang Maha Mengatur?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Tadi ada teman yang telfon saya. Dia lagi hadiri acara, dan ada kelebihan konsumsi, tepatnya ada 50 kotak KFC yang tidak akan dimakan. Dia minta saran dari saya, bisa dikasih ke panti asuhan yang mana? Saya coba telfon ke Panti Asuhan “Yakin” di Jati Padang, karena saya sering ke sana. Ustadz yang jaga anak mengatakan, “Alhamdulillah, malam ini belum ada makan malam.” Mereka biasanya terima dari tetangga, tapi malam ini pembantu orang itu tidak ada, jadi tidak ada yang masak buat anak yatim. Pak Ustadz baru mulai berpikir mau masak apa buat anak2 (paling masak nasi dan goreng tempe)! Wahhh, pas sekali. Di panti ada 20 anak yang menginap, tapi ada puluhan lain di rumah masing2 di sekitar panti. Jadi 50 kotak ayam dan nasi bisa habis dalam sekejap.

Jadi kebetulan ada konsumsi yang berlebihan. Kebetulan teman saya hadir di acara itu. Kebetulan dia berpikir untuk telfon saya. Kebetulan saya tidak sibuk dan bisa langsung angkat telfon. Kebetulan di panti Yakin belum ada makan malam. Kebetulan jaraknya tidak kejauhan. Kebetulan juga ada anak di luar panti sehingga 50 kotak bisa dihabiskan oleh anak yatim di satu lokasi itu, dan tidak perlu kirim ke tempat lain. Kebetulan belum hujan juga, sehingga bisa diantar dengan cepat. Hehe

Banyak sekali “kebetulan”. Atau mungkin ada yang mengaturnya? Yang Maha Mengaturnya! Manusia dikasih otak untuk berpikir. Banyak sekali orang “berpikir”, tapi hanya bisa melihat serangkaian “kebetulan” tanpa merasa hal-hal itu tidak mungkin bisa terjadi kalau “tidak ada yang mengaturnya”. Kasihan sekali mereka. Mungkin otak mereka yang perlu “diatur” kembali. hehehe

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Thursday, November 28, 2013

Apa Selalu Harus Taat Pada Aturan?



[Ada guru yang berkomentar bahwa siswa tetap harus taat pada aturan sekolah, dengan contoh dilarang punya rambut panjang bagi anak laki. Ada aturan, harus taat. Saya memberikan penjelasan bahwa kadang ada yang lebih penting daripada “taat pada aturan”.]

Saya kira kita semua setuju bahwa siswa harus “belajar” untuk taat pada aturan. Itu suatu prinsip yang umum. Jadi kita tidak berbeda pendapat soal itu. Tetapi dalam proses belajar itu, ada suatu prinsip yang LEBIH TINGGI kedudukannya, dan juga LEBIH PENTING. Dan ITU yang tidak dipahami dan tidak mau dibahas oleh banyak guru di sini.

Kalau dalam peraturan sekolah ada larangan bagi siswa laki untuk punya rambut panjang atau gondrong, apakah larangan itu ada di SEMUA sekolah? Apa diwajibkan dari Kemdikbud sebagai kebijakan nasional, karena penting bagi pendidikan semua anak? Apa definisi “rambut panjang” diberikan (berapa senti)? Atau terserah guru untuk menilai sendiri (guru selalu benar, siswa selalu salah)?

Beberapa Artikel Tentang Pemukulan Terhadap Siswa dan Anak














Thursday, November 21, 2013

Dokter Atau Pejabat Yang Lebih Patut Dianggap “Kriminal”?



Setelah ada informasi tentang kasusnya Dr. Ayu yang sudah dipenjarakan sebagai seorang “kriminal”, banyak dokter dan orang yang peduli pada masyarakat Indonesia mulai memikirkan apa yang bisa terjadi di jangka panjang, kalau kasus ini tidak segera selesai. Bahkan sekarang ada dokter yang sudah siap “berhenti menjadi dokter” karena kuatir masa depan keluarga mereka terancam kalau seorang dokter yang baik bisa masuk penjara kapan saja.

Apakah ada dokter yang buruk? Pasti ada. Apakah semua dokter buruk? Tentu saja tidak. Ada banyak dokter yang kerja sampai larut malam, Sabtu dan Minggu juga, tinggalkan keluarganya dalam sekejap karena harus periksa pasien secara mendadak, dan tangani ratusan pasien setiap hari, semuanya dengan bayaran kecil. Tetapi malah kena penghinaan dari Menteri Kesehatan sendiri. Luar biasa. Presiden juga diam dan tidak mau peduli, padahal para dokter itulah yang akan mengobati dia dan keluarganya kalau jatuh sakit.

Kalau seorang pasien wafat, lalu orang tuanya marah, maka itu wajar (ada orang tua yang pasrah, ada yang menjadi marah). Tetapi apakah wajar kalau seorang dokter langsung dianggap seorang kriminal, dan dipenjarakan seperti kriminal, hanya karena ada Jaksa Penuntut yang tidak mau lepaskan kasus itu sampai berhasil penjarakan seorang dokter?

Saturday, November 16, 2013

Mohon Bantuan Mencari Pekerjaan Untuk Teman Saya



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman saya Ahmed adalah orang Inggris dan sudah 1,5 tahun kerja di Jakarta. Karena kondisi ekonomi yang buruk di Inggris, tidak ada banyak pekerjaan di sana, jadi dia harus tinggalkan isteri dan anak di London untuk kerja di Jakarta. Dia sedang mencari pekerjaan baru karena kontrak di sini mau habis. Boleh di Indonesia, atau di negara lain. Dia cari pekerjaan pada tingkat managemen perusahaan besar, khususnya yang berkaitan dengan IT. Contoh pekerjaan:

·         CEO
·         Director atau Managing Director
·         Chief Operating Officer
·         Chief IT Officer
·         Project Manager

Mohon info ini disebarkan ke semua teman, termasuk yang di Eropa, Amerika, dan negara2 lain. Terima kasih banyak atas bantuannya. Kalau ada yang bisa bantu, silahkan hubunginya langsung di : ahmed_zaman@hotmail.com
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Sedikit dari pengalaman kerjanya:
Current:
Danone Group, Jakarta - Senior Project Manager
Role: Business Transformation, Business Improvement Delivery through IT/SAP; Business Process Re-Engineering

Previous:
1. Management/IT Consultant, London, UK
Role: Working with Clients in Turkey, London, Egypt, USA on Strategy, Business Planning/Development, IT Operations

Ceramah untuk Umum - Pengajian Bulan Muharram



Pembicara: Gene Netto

Tanggal: Hari Minggu, 17 Nov, 2013
Waktu: 18:00 sampa selesai

Tema: Makna Hijrah dan Rasionalitas Islam

Lokasi:
Masjid Al-Mudzakarah
Jl. Baing Rt 7/9
Kel. Kampung Tengah
Kec. Kramatjati,
Condet, Jakarta Timur

Siswa “Monster” Yang Berubah Cepat Lewat Diskusi

Assalamu’alaikum wr.wb., Dulu saya mengajar di sekolah negeri SMP-SMA di di Brisbane, Australia. Saya masih muda, sangat idealis dan masih belajar tentang pendidikan dan psikologi anak. Di hari pertama, saya diberitahu akan dapat kelas 8-F. Banyak guru langsung teriak, karena di kelas itu ada Luke! Katanya, Luke sering ditangkap polisi. Dia pernah coba membakar gedung sekolah, menyerang guru, berkelahi di kelas, dll. Setiap hari dia dikeluarkan dari setiap kelas dan dikirim ke ruangan kepala sekolah.

Para guru senior mulai menggambarkan sosok sebuah monster, dengan tanduk, mata merah, dan taring yang tajam. Tidak ada siswa yang lebih buruk katanya. Mereka berharap saya akan selamat kl harus mengajar Luke. Saya berusaha meyakinkan diri bisa mengajar sebuah monster seperti itu. Di kelas, saya panggil nama “Luke” lalu dapat kejutan. Mukanya sangat manis dan harus dikatakan ganteng. Ini si monster?

Saya mulai mengajar. Lima menit kemudian, ada anak yg mengejek Luke jadi dia berdiri dan menyerang. Saya tahan Luke dan suruh dia duduk. Guru senior yg awasi saya diam saja. Saya tegor anak yang menghinakan Luke dan berdiri dekat anak itu. Luke juga duduk dan kerjakan tugas tanpa masalah lagi. Ternyata, Luke hanya bertindak setelah dihinakan anak lain. Anehnya, guru2 senior salahkan Luke karena menyerang, tetapi biarkan anak itu menghinakan Luke.

Sore itu, Luke berdiri di luar ruang guru. Saya mulai berpikir. Di dalam kuliah psikologi pendidikan, anak seperti ini dibahas. Ada banyak cara di dalam buku teks psikologi untuk bantu dia. Apa bisa saya praktekkan dengan Luke? Saya coba ajak dia diskusi. Tujuan hidup Luke apa? Katanya mau jadi pilot. Tapi saya bilang, kl nakal terus, nanti bisa masuk penjara. Jadi saya suruh dia pilih yang lebih utama. Penjara atau pilot. Dia bilang ingin pilih menjadi pilot.

Saya jelaskan, anak-anak lain di kelas itu sengaja mengejek Luke sebagai “permainan”. Penghinaan mereka itu ibaratnya “perintah menyerang” dan Luke selalu nurut dan membuat mereka ketawa setelah dia kena hukuman. Jadi Luke harus belajar utk mengabaikan mereka. Yang penting hanya pendapat Luke tentang diri sendiri, bukan pendapat dari orang jelek. Dia bilang semua orang pasti marah kalau diejek. Saya keluarkan 20 dolar (sekitar 200 ribu rupiah). Saya bilang “Coba menghinakan saya, dan kalau saya jadi emosi, kamu menang uang ini.”

Dia mulai ucapkan kata-kata kasar, sampai kehabisan kata dan saya masih senyum. Dia bingung. Kok bisa? Saya jelaskan, menjadi marah adalah pilihan kita. Saya yakin bahwa saya orang yang baik, jadi saya tidak peduli pada pendapat dia. Dan Luke juga bisa sama. Tidak perlu menjadi marah.

Saya ajak dia coba berdua dengan saya, dengan cara saling menghinakan. Saya mulai hinakan dia, dan dia balas menghinakan saya juga. Setelah 5 menit kami kehabisan kata dan mulai ketawa berdua. Saya bilang, sudah terbukti. Luke juga bisa menahan diri dan tidak menjadi marah.

Besok, kl ada yang hinakan Luke di kelas, saya janji akan hentikan “serangan” mereka itu, dan melindungi Luke. Dia kaget. Kok ada guru yg mau “melindungi dia? Saya bilang saya akan selalu melindungi dia karena dia siswa saya. Dia diam, seakan-akan belum pernah dapat kepedulian seperti itu dari orang dewasa. Saya bilang dia harus percaya pada saya, tidak menyerang orang lain, dan saya akan melindungi dia. Besok ada siswa yg menghinakan Luke, dan saya langsung tegor dan suruh minta maaf. Luke tidak gerak.

Besoknya, saya ajak Luke diskusi lagi. Kalau mau jadi pilot, harus dapat nilai A terus. Dia bilang tidak mungkin dapat A karena selalu dapat D dan E di rapor. Saya ingat pelajaran dari dosen psikologi. Saya tawarkan A saat itu juga, dan Luke hanya perlu “menjaganya” dengan tidak berbuat salah. Saya ambil rapot Luke dari laci, dan menulis A di depan matanya. Kalau dia berkelahi, nilai itu akan turun, tapi kalau dia kembali baik, naik lagi menjadi A. Nilai A itu sudah menjadi hak milik dia, dan hanya perlu dijaga setiap minggu dgn ahklak yang baik.

Dalam rapat guru minggu itu, kepala sekolah bertanya apakah Luke sakit, karena dia sudah seminggu tidak ketemu Luke. Padahal biasanya ketemu setiap hari. Sepuluh guru langsung tunjuk kepada saya. Kepala sekolah bingung dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan pada Luke?” Saya jelaskan isi dari diskusi saya dengan Luke, dan teori psikologi anak yang sedang digunakan. Saya jelaskan cara saya fokuskan pikirannya ke masa depan ingin menjadi pilot, dan cara memilih yang terbaik sekarang. Kepala sekolah mengatakan, “Bagus sekali Gene, tolong diteruskan!” Saya kaget. Masih guru muda, dan tiba-tiba dapat pujian di depan 60 guru senior.

Total waktu saya yang habis untuk diskusi dengan Luke mungkin hanya 15 jam saja. Masalah utama dia sebenarnya ada di rumah. Orang tuanya tidak ingin punya anak. Bapak sering hajar dia. Ibu sering menghinakan dia dan bilang bahwa dia tidak diinginkan. Jadi Luke belum biasa merasakan kasih sayang, perhatian dan perlindungan dari orang dewasa dan itu sebabnya dia menjadi liar di sekolah.

Setelah saya pindah ke Indonesia tahun 1995, di zaman sebelum ada HP, email dan internet, saya tidak pernah dapat kabar lagi tentang Luke, jadi tidak tahu kalau apa dia menjadi pilot atau masuk penjara. Tapi saya masih ingat pada dia. Mungkin dia merasa dapat “pelajaran” dari saya, tapi saya malah bersyukur sekali karena dia menjadi pelajaran yang paling penting dalam kehidupan saya sebagai seorang guru.

Semua anak yang “nakal” bisa berubah. Anak monster bisa berubah. Terserah kita yang menjadi guru, orang tua, saudara dan tetangga. Apa kita mau datang kepada anak bermasalah sebagai teman dan tawarkan bantuan, nasehat, perlindungan, dan kasih sayang? Kalau kita siap menolong mereka dengan sungguh-sungguh, insya Allah anak yang sangat nakal bisa berubah sebelum menjadi orang yang merusak komunitasnya sendiri.

Ini kisah nyata yg saya alami sendiri. Saya masih ingat dengan tajam sampai sekarang pengalaman saya ketemu dengan Luke. Semoga kisah ini bermanfaat bagi teman-teman guru dan orang tua yang peduli pada masa depan anak Indonesia.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...